DIREKTUR Jenderal Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Ahmad Najib Burhani memastikan sekolah garuda akan menggunakan empat kurikulum sekaligus dalam sistem pembelajarannya. Model ini diklaim sebagai upaya memperkuat talenta sains dan teknologi sekaligus membuka akses pendidikan unggul di luar Jawa.
Empat kurikulum yang dimaksudkan itu adalah kurikulum nasional sebagai fondasi akademik utama, kurikulum karakter untuk membangun kepemimpinan dan integritas siswa, kurikulum STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) sebagai penguatan kompetensi sains dan teknologi, dan kurikulum internasional/global untuk membuka akses dan daya saing global.
Menurut Najib, penguatan STEM menjadi salah satu alasan utama pendirian sekolah garuda. Ia menilai kebutuhan tenaga ahli sains dan teknologi di Indonesia tinggi, terutama untuk mendukung industrialisasi dan hilirisasi. Namun, minat dan ekosistem pendidikan STEM dinilai masih terbatas.
“Lulusan perguruan tinggi kita belum didominasi bidang STEM, padahal kebutuhan industri sangat besar. Karena itu, ekosistemnya harus dimulai sejak SMA,” ujarnya dalam konferensi pers sosialisasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) sekolah garuda di Kemendiktisaintek, Jakarta Selatan, Rabu, 18 Februari 2026.
Selain itu, menurut Najib sekolah garuda dirancang dengan landasan yang ia sebut sebagai the one percent rule. Maksudnya adalah gagasan bahwa negara perlu memfasilitasi sekitar 1 persen siswa dengan kemampuan sangat unggul atau jenius dan sangat bertalenta yang selama ini dinilai belum mendapat dukungan optimal.
“Sering kali ketika kita bicara inklusivitas, fokusnya pada kelompok difabel dan kelompok rentan lainnya. Tapi ada komponen masyarakat yang sering terlewat, yaitu anak-anak yang sangat berbakat. Mereka jumlahnya kecil, tetapi potensinya besar,” kata Najib dalam pemaparannya.
Berbeda dengan sekolah unggulan yang selama ini banyak terkonsentrasi di Pulau Jawa, Sekolah Garuda justru dibangun di daerah yang dinilai memiliki potensi besar tetapi minim fasilitas pendidikan unggul.
Empat lokasi pertama adalah:
- Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung
- Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur
- Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara
- Tanjung Selor, Bulungan, Kalimantan Utara
Najib mencontohkan sejumlah daerah seperti Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Utara, hingga Papua yang dinilai memiliki potensi siswa unggul, tetapi akses ke sekolah berkualitas masih terbatas. Di Kalimantan Utara, misalnya, sebagian orang tua yang mampu memilih menyekolahkan anak ke Malaysia karena keterbatasan pilihan sekolah unggulan di daerahnya.
Selain empat sekolah yang akan beroperasi mulai Juni 2026, pemerintah menyiapkan pembangunan di sejumlah daerah lain, antara lain Mempawah (Kalimantan Barat), Rejang Lebong (Bengkulu), Manokwari dan Merauke (Papua), serta beberapa titik di Maluku.
sumber: https://www.tempo.co/politik/alasan-sekolah-garuda-bakal-pakai-empat-kurikulum-sekaligus-2115908